Halaman

Total Tayangan Halaman

Sabtu, 23 Oktober 2010

Menjadi Koordinator Konsumsi

Dapet tugas nih dari Aldy buat nulis cerita waktu jadi koordinator konsumsi di Pembukaan Pendidikan Dasar Paduan Suara Mahasiswa Gunadarma Swara Darmagita. Bingung sebenernya mau nulis apa. Paksain aja nih.

Ini pertama kalinya saya jadi koordinator konsumsi sebuah acara. Sebetulnya saya punya anggota konsumsi, tapi karena anggota saya itu berhalangan hadir dari awal rapat sampai acara pembukaan selesai, saya kerja sendiri. Perasaan takut, grogi bercampur semua.

Tugas konsumsi di acara ini tidak terlalu berat sebetulnya. Bahkan awalnya tugas saya hanya membeli air mineral gelas 3 dus, oleh karena itu juga saya tidak terlalu terbebani kerja sendiri. Saya berencana membeli air mineral tersebut satu hari sebelum hari-H, tapi ternyata tidak ada waktu karena harus ada rapat GCF (Gunadarma Choir Festival). Saya putuskan untuk belanja pagi hari di hari-H. Keadaan tak terduga pun terjadi. Kakak saya sakit yang mengakibatkan saya terlambat 4 jam. Saya berterima kasih kepada kak Ismar yang telah menggantikan tugas saya membeli air mineral. Memang jadi agak terlalu banyak, yang seharusnya 3 dus jadi 5 dus. Saya juga mohon maaf atas kesalahan yang saya buat tersebut.

Malam sebelumnya...

Malam sebelum hari-H, saya ditunjuk oleh koordinator acara untuk menjadi operator. Karena tugas saya di konsumsi tidak banyak, tentu saja saya tidak keberatan. Namun kemudian, Aldy (selaku ketua acara) meminta saya untuk mendata anggota dan panitia yang ingin pesan makan siang untuk hari-H. Saya langsung mendata serta memesan makanan malam itu juga. Kak Ismar membantu saya dalam memesan makanan, karena beliau sudah kenal dengan salah satu pemilik rumah makan di dekat kampus Gunadarma Kelapa Dua. *terima kasih kak Ismar :)

Operator pun diganti menjadi kak Sisco. Mohon maaf kepada sie acara karena ternyata ada kesalahpahaman soal laptop. Mungkin kurang informasi saja.

Kembali ke hari-H...

Karena terlambat, saya membatalkan meminta bantuan anggota perlengkapan untuk mengantarkan saya mengambil makan siang di kelapa dua. Mohon maaf kepada anggota perlengkapan, semoga jadi memudahkan :). Dari rumah sakit, saya minta bantuan adik saya Indra untuk mengantar saya ke kampus sekaligus mengambil makan siang untuk panitia dan anggota. Terima kasih de :). Beruntung saya bisa sampai tepat waktu sebelum makan siang.

Belum selesai! Kak Adit selaku humas SDG mengingatkan saya untuk menawarkan jasa membelikan makanan untuk alumni. Akhirnya saya pun bertanya kepada para alumni. Ternyata alumni tidak ingin merepotkan. Tapi, saya belum memesan makanan untuk satpam dan OB. Walaupun tidak jadi membeli makan siang untuk alumni, saya tetap harus turun membeli makan siang untuk satpam dan OB. Setelah memberi makan siang kepada satpam dan OB, saya pun bisa makan bersama dhita. Makasi dhita sudah mau menunggu untuk makan siang bareng :).

Intinya pengalaman ini mengajarkan saya banyak hal yang tidak bisa disebutkan satu-persatu. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk semua pihak yang membantu saya dalam kegiatan ini. Khususnya untuk adik tercinta yang rela mengantar sampai lantai 4 kampus Gunadarma, kak Ismar yang banyak memberi bimbingan serta bantuan, dan Aldy yang telah memaklumi keterlambatan saya. LOVE SDG! :)

Rabu, 06 Oktober 2010

Artheory's First Team



Awalnya artheory hanya terdiri dari 3 orang yang iseng. Kini anggota artheory bertambah menjadi 5 orang. :)

Pengalaman Membuat Sistem Marketing

Mungkin bagi sebagian orang yang sudah berkompeten, sistem marketing tidaklah terlalu rumit. Namun bagi seorang pemula seperti saya ini, itu bukanlah hal yang mudah. Mulai dari memikirkan konsep, saya dan beberapa rekan saya berusaha menciptakan sebuah sistem marketing yang baik dan menguntungkan. Hal ini sangat sulit dimana kami harus memposisikan diri kami sebagai penyedia jasa professional dan juga melakukan berbagai survey untuk mengetahui keinginan client dengan ilmu dan waktu yang terbatas karena beberapa dari kami masih berstatus mahasiswa.

Sistem marketing yang kami gunakan saat ini yaitu dengan menyebarkan brosur berisi list jasa yang kami sediakan. Hal ini dikarenakan kami bukanlah sebuah perusahaan besar dan ternama, melainkan kami hanya sebuah kelompok yang ingin menyalurkan hobi dan cita-cita kami. Salah satu jasa yang cukup banyak diminati saat ini yaitu jasa pembuatan desain kaos.

Banyak sekali kendala yang kami temukan. Salah satunya dikarenakan kami tidak memiliki tempat yang tetap, sehingga client yang ingin menggunakan jasa kami pun harus membuat janji terlebih dahulu. Selain itu, sebagai mahasiswa kami tidak bisa stand by 24 jam untuk menerima telepon dari client.

Kami masih terus mencari solusi dan terus berupaya meningkatkan mutu dan kualitas system marketing kami untuk memperkecil segala kerugian dan meningkatkan segala keuntungan yang mungkin untuk kami maupun client yang menggunakan jasa kami. Saran dan kritik yang membangun sangat kami butuhkan demi memperbaiki system kami.

Pengembangan Cara Bernyanyi Dengan Baik dan Benar

Berawal dari kegemaran bernyanyi, saya bergabung di kelompok marawis di SMA. Teknik yang saya pakai ternyata belum sempurna. Sampai akhirnya saya di perkuliahan saya melihat meja pendaftaran Paduan Suara Mahasiswa Universitas Gunadarma Swara Darmagita. Hati saya tergerak untuk bergabung. Kemudian setelah saya bergabung dengan UKM tersebut, saya baru mengetahui bahwa ternyata banyak sekali kesalahan yang saya gunakan dalam bernyanyi. Salah satunya adalah system pernafasan saya.

Sistem pernafasan yang digunakan dalam bernyanyi lebih rumit dari yang saya bayangkan sebelumnya. Saya harus bernafas menggunakan diafragma, yang mana pada saat itu saya “belum” mengetahui apa itu diafragma. Diafragma adalah otot yg berada di bawah paru2 dan diatas perut (usus), persisnya di bawah tulang rusuk melingkar sampai ke depan (di bawah ulu hati). Kalau kita sedang tertawa atau batuk, maka otot2 diafragma inilah yg mensupport dorongan nafas dari paru2.

Proses yang saya tempuh untuk mencapai semua itu sangatlah sulit, dari bahu tidak boleh terangkat, dan sikap tubuh yang harus tegak. Saat mengambil nafas pun saya harus menggunakan mulut dan hidung secara bersamaan.

Perjuangan belum selesai. Ketika saya sudah mulai bisa mengambil nafas dengan benar, ada lagi langkah yang harus saya tempuh yaitu untuk mengunci nafas tersebut dan menggunakannya secara maksimal (tidak boros) agar bisa mencapai long not (suara pada nada tertentu yang dikeluarkan dengan cukup lama tanpa bernafas). Teknik ini mungkin sangat mudah dituliskan, namun pada prakteknya sangat sulit dikembangkan. Butuh konsentrasi yang tinggi untuk membagi daya piker antara bernyanyi dan bernafas. Saya akui hingga detik ini ketika bernyanyi terkadang lupa untuk menggunakan teknik bernafas yang seharusnya. Segala sesuatunya pun masih menjadi proses bagi saya.